Posts filed under 'Sharing Pengalaman'
Dari ide turun ke kenyataan
Sepenggal wawancara dengan salah satu Pemenang iMULAI 2.0 2008
Continue Reading 1 comment Januari 29, 2009
Buatlah Kopimu Sendiri: Tips Tenang di Tempat Kerja
Dalam menyelesaikan pekerjaan kantor sehari-hari, ketenangan merupakan faktor kunci yang harus selalu diupayakan ada dalam diri setiap karyawan. Bagaimana bisa bekerja dengan baik bila diri berada dalam kondisi yang tidak tenang? Ketenangan pada diri seseorang tentu saja tidak hanya menyangkut ketenangan batin tapi ketenangan fisik juga tak kalah penting.
Banyak karyawan yang sebelum memasuki kantor sudah was-was duluan. Hati deg-degan, jantung berdebar-debar dan perasaan seperti diburu-buru. Seperti ada yang mengejar-ngejar dari belakang dan itu membuat orang jadi panik. Lebih-lebih, kalau sejak di perjalanan sudah ditelepon oleh bos dan diingatkan bahwa hari ini akan ada meeting penting dengan klien. Atau, misalnya hari ini adalah jadwal Anda untuk presentasi memperebutkan tender tertentu, maka sebelum sampai di kantor pun rasanya “kemrungsung”, ada kekhawatiran akan gagal dan sebagainya sehingga mengganggu keseimbangan psikis dan fisik.
Terlepas dari situasi-situasi luar biasa yang harus dihadapi dengan kesiapsediaan dan persiapan khusus, bagaimana pun ketenangan merupakan suatu keadaan yang selalu diperlukan. Bekerja dengan tenang yang terjaga akan memberikan hasil yang lebih maksimal. Atau, dengan kata lain, ketenangan yang maksimal akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Oleh karenanya, senantiasa diperlukan karyawan-karyawan yang tenang, tidak gampang panik, dalam segala situasi dan kondisi.
Untuk mencapai sikap tenang sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan. Setiap individu bisa melakukannya dengan usaha-usaha kecil, namun efektif untuk membantu menenangkan diri setiap saat, sepanjang hari.
1. Memberi salam saat memasuki kantor
Ucapkan asalamualaikum atau pun selamat pagi dengan tulus, sambil menebar pandangan ke seisi ruangan, menatap satu per satu teman-teman yang sudah lebih dulu hadir di kantor. Mereka akan bersautan menjawab salam Anda dan itu akan memberikan efek kebersamaan yang kuat. Anda akan mendapatkan energi positif dari situ.
2. Mengecek email sebelum yang lain
Chatting, brosing, nge-blog, posting di milis sudah bukan rahasia lagi telah menjadi bagian keseharian kita di kantor. Lakukan saja. Tapi, sebelum itu semua sebaiknya cek email terlebih dahulu agar jangan sampai ada janji meeting, surat penawaran dari calon klien, pertanyaan yang harus dijawab segera dan hal-hal penting lain berkaitan dengan pekerjaan yang terlewat atau pun terlupa. Jawab segera email yang memang mendesak untuk dijawab, jangan ditunda. Dengan mengawali hari seperti itu akan membuat Anda tenang untuk mengerjakan tugas-tugas selanjutnya.
3. Menjaga sikap duduk yang tenang
Sikap dan posisi duduk yang benar, dagu yang selalu mendongak, tubuh yang senantiasa tegap akan memberikan efek ketenangan pada keseluruhan fisik dan juga jiwa Anda.
4. Melepas sepatu
Tidak, Anda tidak salah dengar. Ini memang disarankan karena dengan telapak kaki yang terbebas dari sepatu, dan langsung menatak ke lantai/karpet, akan menstimulasi perasaan tenang.
5. Bunga di vas dan bola remas
Kalau bunga “beneran” merepotkan, maka bunga plastik yang ditaruh dalam vas kecil di atas meja pun akan menjadi pemandangan yang menyegarkan. Bola remas yang biasa Anda jumpai di toko-toko “serba lima ribu” bisa membantu Anda di saat-saat tertentu ketika Anda panik atau khawatir. Dengan meremas-remas bola itu, ketegangan yang menyelimuti tubuh Anda akan mengendor sehingga Anda menjadi lebih tenang.
6. Makan siang lebih awal
Berkantor di pusat perkantoran yang padat membuat Anda harus mengantri panjang saat makan siang di kantin. Dengan memajukan waktu makan siang sedikit lebih awal dari yang lain, Anda akan bisa menikmati makan siang Anda lebih santai, dan selesai juga lebih cepat sehingga memberikan ketenangan untuk menghadapi separo hari kerja yang masih harus dilewati.
7. Buatlah kopimu sendiri
Menjelang sore mungkin Anda perlu secangkir kopi atau teh. Tunggu, tidak perlu menyuruh office boy untuk melakukannya. Pergilah sendiri ke pantri untuk membuatnya dan itu memberi kesempatan bagi Anda untuk bergerak, meregangkan otot-otot tubuh yang kecapekan duduk, hingga akhirnya Anda mendapatkan ketenangan.
8. Selalu berpikir positif
Ya, berpikir positif bukan sekedar lawakan yang selalu diulang-ulang oleh Tukul di acara Empat Mata. Meski ini klise, tapi dampaknya nyata. Berpikir positif bahwa klien yang akan Anda hadapi 1-2 jam lagi adalah orang yang kooperatif dan ramah akan membuat Anda tenang.
9. Jangan meributkan hal-hal kecil
Teman sebelah meja Anda lupa mengembalikan pulpen yang dipinjamnya dari Anda? Tidak perlu nyolot dengan misalnya, “Kebiasaan, deh!” Bilang saja, “Pulpennya udah belum? Kalau udah taruh sini lagi ya, biar besok kalau mau minjam lagi gampang.”
10. Kembangkan rasa humor
Jika Anda memiliki bos yang berselera humor dan suka melucu, bersyukurlah. Tapi, kalau tidak, Anda sendiri bisa menciptakan atmosfer kantor yang selalu diwarnai dengan humor. Komentari sesuatu dengan lucu agar tercipta suasana keakraban yang hangat dan menenangkan hati.
Mudah bukan?
7 comments Desember 1, 2008
Cinta Tak Selalu Berwujud Bunga
dari email terusan, susah mengetahui siapa penulis aslinya
mohon maaf jika tidak di tuliskan
Continue Reading 1 comment Desember 1, 2008
Sudut Pandang
Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang
berpergian naik pesawat ke Jakarta .
Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.
Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.
” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si Pemuda.
“Oh… Saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore
nengokin anak saya yang ke dua” jawab ibu itu.
” Wouw….. hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam
sejenak.
Pemuda itu merenung.
Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan
pertanyaannya.
” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu??
Bagaimana dengan kakak-adik adik nya??”
“Oh ya tentu..” si Ibu bercerita :
“Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang ,
 yang keempat kerja di Perkebunan di Lampung,
yang kelima menjadi arsitek di Jakarta ,
yang keenam menjadi kepala cabang bank di
Purwokerto,
yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.”"
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan
sangat
baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.
“terus bagaimana dengan anak pertama Ibu ??”
Sambil menghela napas panjang, Ibu itu menjawab,
“Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak,
Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar “
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. sepertinya Ibu agak kecewa ya
dengan anak pertama Ibu, adik-adiknya
berpendidikan tinggi dan sukses
di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani?”
Mau tau jawabannya…??? ???
…
…
…
…
…
…
…
Teruslah menggulung…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
Teruslah menggulung…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
…
Dengan tersenyum Ibu itu menjawab,
” Ooo… tidak.. tidak begitu Nak….
Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang
membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”
…
…
…
Moral lesson :
Everybody in the world is a important person.[IMAGE]
Open your eyes. …your heart….your mind….your point of view
because we can’t make summary before read “the book” completely.
The wise person says…The more important thing is not WHO YOU ARE
But WHAT YOU HAVE BEEN DOING.
3 comments Desember 1, 2008
Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua? Apa musti dipukul dulu baru nurut?”
Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan?”. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.
Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya:Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, AfrikaSelatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman
atau menonton bioskop.Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa
saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan.Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.Pagi itu
setiba di tempat konferensi, ayah berkata “Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama. ” Segera saja saya menyelesaikan berbagai pekerjaan yang diberikan oleh ayah
dan ibu. Kemudian saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehinggalupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 8.00!!!Dengan gelisah ayah menanyai saya “Kenapa kau terlambat?”. Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, “Tadi mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum
kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.” Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah.
Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidiktanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu,
menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah
kekuatan bertindak tanpa kekerasan.
Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah
satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi? Ya bisa saja! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya. Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua “bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. “Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan “bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya Anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam “bibit” perilaku dan sikap itu. Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya (baby sitter). Ya berdoalah semoga pengasuh anak Anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak Anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) Anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak Anda memperoleh “bibit” sikap dan perilaku yang baik. Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu “sebab”.Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan “akibat” dari suatu “sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi “akibat” tanpa “sebab”? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya.Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap?Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi? Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.
dari terusan email
Add comment Desember 1, 2008
